Minggu, 08 Desember 2013

An Un-Requited #06

Sehari sebelum event itu terlaksana, kita bertemu lagi.
Aku dengan wajah lelahku dan kau dengan wajah cuekmu.
Aku memberanikan diri untuk berbicara denganmu, meminta bantuanmu.
Dan kau membantuku. Tanpa mengeluh.
Walau kau masih tidak menatapku, aku sangat senang.
Kali ini, aku tak lagi merasa tercabik.
Apakah aku mulai menerima sikapmu yang dingin?
Barangkali aku sedikit memahamimu?
Ataukah hati ini telah terbiasa denganmu yang acuh tak acuh?
Entahlah, yang kutahu... Aku bahagia...

An Un-Requited #05

Sejak kejadian yang menyakitkan itu, aku berubah.
Aku tak lagi mengganngumu setiap saat.
Hanya sms biasa yang kukirimkan.
Datar. Tanpa emoticon.
Mungkin kau tak menyadarinya.
Karena, aku bukan lah apa-apa.
Hanya pengganggu yang menambah runyam duniamu.
Mungkinkah kau merasa lega saat itu?

An Un-Required #04

Untuk ketiga kalinya, kau bicara langsung padaku.
Seperti yang lalu, tanpa menatapku.
Mengucapkan kata-kata sehemat mungkin.
Seperlunya dan pergi.

Bagaimana bisa kalimat yang kurang dari sepuluh kata mencabik hatiku?
Padahal, kata-kata itu bukan lah kata-kata yang kasar.
Nadanya pun biasa. Tanpa penekanan apa pun.
Tapi rasanya, aku ingin menangis setelah mendengarnya.
Menangis sebanyak yang kubisa. Hingga rasa sakit dalam hati ini menghilang.
Tapi yang kulakukan hanya terdiam. Menahan luka yang menganga.


An Un-Requited #03

Kau berada dua kursi jauhnya dariku.
Sudut mataku menangkap bayanganmu dengan jelas.
Pandanganmu berkali-kali melewatiku.
Tapi kau tak menyadari keberadaanku. Sama sekali.
Se-invisible itu kah diriku bagimu?

Tak tahukah kau?
Mengapa aku tak memandangmu?
Mengapa aku tak menyapamu?
Mengapa aku tak mendekatimu?
Karena aku takut, rasa yang masih labil ini kau ketahui.
Karena aku takut, mata yang tak bisa berbohong ini mengatakan padamu rasa rinduku.
Karena aku takut, suaraku akan berkhianat dan memberi tahu bahwa
aku sangat senang bertemu dengamu.
Karena aku takut, tubuh ini memelukmu begitu aku mendekatimu.
Aku takut...

An Un-Requited #02

Sore itu, kau mengajakku untuk bertemu.
Entah mengapa, aku merasa senang.
Akhirnya setelah berkali-kali menolak ajakanku, kau mau juga bertemu denganku.
Mengadakan kontak langsung yang pertama kalinya.
Bukan lagi lewat sms maupun e-mail.

Sepuluh menit.
Setengah jam.
Satu jam.
Satu jam setengah.
Tak terhitung berapa kali aku menengok ke arah pintu.
Kau tak juga muncul.
Sms-ku tak kau balas.
Teleponku tak kau angkat.
Sampai-sampai, aku khawatir kalau hape-mu mati karena misscall-ku.
Tak tahukah engakau?
Perutku berputar-putar mengkhawatirkanmu.
Pikiranku tak lagi jernih.
Aku bertanya-tanya.
Kenapa kau tak muncul?
Apa yang terjadi padamu?

Dan lagi-lagi, hanya aku yang berpikir terlalu jauh.
Satu-satunya orang yang khawatir.
Orang bodoh yang khawatir.
Karena ternyata, kau tak peduli.

Sabtu, 02 November 2013

Keputusan



Ai membuka amplop pertama dengan hati-hati. Perlahan, matanya menyusuri deretan tulisan dan angka berwarna hitam yang tertera di kertas hvs  di tangannya. Sampailah ia pada kesimpulan. Aman.
Kemudian ia beranjak membuka amplop kedua. Berdoa sepenuh hati. Berharap bahwa isinya tak jauh berbeda dengan amplop pertama. Tapi harapan tinggal lah harapan. Tulisan dan angka yang tercetak di sana, menghancurkan hatinya. Walaupun begitu, Ai terus membaca hingga mencapai kesimpulan di bagian akhir tulisan itu. Ia membacanya berulang-ulang. Terus, sampai ia yakin bahwa ia tak melewatkan satu pun detail yang ada. Tak melewatkan satu pun harapan yang masih tersisa.

Sabtu, 03 Agustus 2013

Holding Your Hand



Na's POV
 
Klotak… klotak…

Suara gigiku beradu tanpa henti. Enggan rasanya keluar dari kehangatan selimut dan sleeping bag. Tapi, aku tak boleh egois. Aku harus segera memulai pendakian ke puncak.

“Ayo, Na! kita harus segera bergerak!” suara Kak Tanjung, pendampingku.